Khoirunnas Anfauhum Linnas

LightBlog

Friday, December 25, 2020

RAFEL DZINUN MUHAMMAD, ENAM KALI SABET MEDALI INTERNASIONAL

RAFEL DZINUN MUHAMMAD, ENAM KALI SABET MEDALI INTERNASIONAL 

Terus Berusaha, Jangan Pernah Menyerah.

Foto : peresmian masjid sekolah

Masa pandemi membuat waktu di rumah saja semakin panjang. Rafel memanfaatkan sebagian waktunya untuk belajar dan meraih prestasi internasional.

Ketika memutuskan untuk mengikuti olimpiade, Rafel selalu berharap bisa mendapatkan juara. Namun perjalanan bungsu dua bersaudara ini tidak mudah. Dia beberapa kali pulang dengan tangan hampa. “Kalau kalah itu pasti pernah, tapi kekalahan itu menjadi penyemangat tersendiri,” ujar siswa kelahiran 6 November 2006 itu.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Rafel dilatih untuk aktif mengikuti berbagai perlombaan. Dia dinilai gurunya memiliki kemampuan di bidang mata pelajaran matematika. Rafel tidak menolak saat orang tuanya mengajak untuk mendaftarkan diri mengikuti salah satu perlombaan.

Ajakan orang tuanya malah membuatnya kini ketagihan untuk mengasah otaknya. Dia sekarang lebih aktif untuk mencari informasi olimpiade matematika bagi siswa SMP. “Sekarang pandemi, sekolahnya juga diberlakukan sif. Jadi ada banyak waktu mencari informasi untuk mengikuti olimpiade,” tutur mantan siswa MI Murni Sunan Drajat Lamongan itu.

Untuk menambah kemampuannya, Rafel juga mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Apalagi, selama pandemi, pendalaman materi olimpiade di sekolah diliburkan sementara. Tahun ini, Rafel enam kali mengikuti kejuaraan.

Hasilnya, medali gold saat Heat Round Hongkong International Mathematical Olympiad (HKIMO). Saat final, dia gagal memertahankan medali itu. Rafel menerima penghargaan silver. Kemudian empat medali silver lainnya juga diperoleh dari International Kangaroo Mathematic Contest (IKMC), Southeast Asean Mathematical Olympaiad (SEAMO), Singapore and Asian Schools Math Olympiad (SASMO), dan Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO).

“Setiap mengikuti kejuaraan banyak pelajaran yang didapat. Selain itu, tim guru selalu memberikan dukungan pembelajaran baik online maupun offline,” tutur siswa asal Kecamatan Lamongan itu. Saat mengikuti kejuaraan, Rafel merasa banyak soal transisi dari SMP ke SMA. Dia merasa kesulitan dan blank bila menghadapi soal – soal tersebut.

Apabila tidak tahu jawabannya, maka dia memilih untuk mengosongi. Tujuannya, poinnya tidak minus karena jawaban salah. Rafel juga merasa soal-soal antara satu olimpiade dengan olimpiade lainnya mirip. Kadang hanya berbeda angka. Karena itu, kunci untuk belajar matematika adalah sering latihan soal.

Rafel mengajak teman-temannya untuk rajin belajar meski pandemi. Banyak di rumah, maka waktu lebih panjang untuk belajar. Dia bisa mendapatkan enam medali tingkat internasional dalam satu tahun karena rajin belajar. Sebelumnya, puluhan medali sudah diraihnya dari berbagai kejuaraan.

“Intinya kita terus berusaha dan jangan pernah menyerah meski belum berhasil,” kata putra pasangan Dr Fathurrahman dan Aini Zulfa ini. Rafel belum memiliki keinginan untuk menjadi seorang guru, dosen, atau lainnya.

Saat ini,dia memilih fokus untuk sekolah dan mengikuti olimpiade. Semakin sering mengikuti olimpiade dan juara akan memudahkan langkahnya dalam meraih pendidikan yang lebih tinggi lagi.

Source : Jawa Pos

No comments:

Post a Comment

Salamat Datang Di website saya - Sudahkah kita berbuat baik hari ini? - Terima kasih telah berkunjung ke website qodirsmart, like, follow dan subscribe please!

Popular