Pagi itu, suara ayam berkokok membangunkanku dari tidur.
Aku segera bergegas menunaikan salat Subuh, mandi, lalu bersiap untuk pergi. Setelah semuanya selesai, aku duduk di meja makan bersama Ibu. Kami sarapan sambil sesekali bercanda. Pagi itu terasa biasa saja, seperti pagi-pagi lainnya.
Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa perjalanan pagi itu akan menjadi salah satu pengalaman yang paling sulit kulupakan.
Sekitar pukul enam pagi, aku dan Ibu berangkat menuju Pondok Pesantren Al Fattah, Siman, Sekaran, Lamongan. Hari itu kami akan menghadiri sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh sekolah.
Kami menggunakan sepeda motor Honda Astrea yang dibelikan orang tuaku. Motor itu menjadi kendaraan yang biasa kugunakan untuk membantu aktivitas sehari-hari keluarga.
Bagiku, perjalanan pagi itu juga istimewa.
Itulah salah satu perjalanan pertamaku mengendarai motor bersama Ibu.
Diam-diam, aku ingin menunjukkan kepada Ibu bahwa aku sudah mampu mengendarai motor dengan baik. Ada rasa bangga setiap kali tanganku menggenggam setang motor dan berhasil membawa kami melaju di jalan raya.
Jarak rumah kami menuju tempat tujuan sekitar 25 kilometer. Cukup jauh untuk perjalanan berdua.
Di sepanjang jalan, aku dan Ibu mengobrol. Kadang membicarakan sekolah, keluarga, atau hal-hal sederhana yang membuat perjalanan terasa singkat.
Semuanya berjalan lancar.
Sampai akhirnya kami tiba di pertigaan Pucuk.
Di sebelah kiri jalan terdapat sebuah halte. Tanpa kusadari, Ibu turun dari motor di tempat itu.
Mungkin Ibu bermaksud berhenti sebentar.
Masalahnya, aku tidak menyadarinya.
Aku terus melaju.
Belok kanan.
Menuju Siman.
Aku masih mengira Ibu duduk di jok belakang.
Aku bahkan sempat mengajak Ibu berbicara.
“Bu, nanti kita lewat mana?” tanyaku.
Tidak ada jawaban.
Aku mengira Ibu tidak mendengar karena suara kendaraan cukup ramai.
Aku terus melaju.
Sekitar satu setengah kilometer dari Pucuk, tiba-tiba terdengar suara bel sepeda dari belakang.
“Dek!”
Aku menoleh.
Seorang pria setengah baya sedang mengendarai sepeda motor. Ia memberi isyarat agar aku berhenti.
Aku pun memperlambat laju motor dan menepi.
Pria itu segera menghampiriku.
“Maaf, Dek,” katanya sambil menunjuk ke arah belakang. “Ibunya ketinggalan.”
Aku terdiam.
“Ibu... ketinggalan?”
Jantungku seperti berhenti sesaat.
Aku menoleh ke jok belakang.
Kosong.
Saat itulah aku baru menyadari kenyataan yang sejak tadi tidak kusadari.
Aku berangkat bersama Ibu.
Namun, sekarang aku berkendara sendirian.
Aku benar-benar lupa bahwa orang yang kubonceng sudah tidak ada di belakangku.
Ternyata, pria tersebut adalah tukang ojek yang membawa Ibu dari halte. Ia sengaja mengejarku karena melihat Ibu kebingungan setelah aku pergi begitu saja.
Rasa panik langsung memenuhi pikiranku.
Bagaimana mungkin aku bisa tidak menyadari bahwa Ibu turun?
Bagaimana mungkin aku bisa berkendara sejauh itu tanpa sekali pun menoleh?
Tak lama kemudian, kami bertiga bertemu.
Ibu naik kembali ke motorku. Aku menatap wajahnya. Ibu tidak memarahiku. Justru itulah yang membuat rasa bersalahku semakin besar.
“Maaf, Bu,” ucapku pelan.
Ibu hanya tersenyum.
“Tidak apa-apa. Lain kali lebih hati-hati.”
Aku mengangguk.
Sebelum melanjutkan perjalanan, aku dan Ibu mengucapkan terima kasih kepada tukang ojek tersebut. Kami juga memberikan ongkos sebagai tanda terima kasih karena telah membantu Ibu dan mengejarku.
Setelah itu, perjalanan kami lanjutkan.
Namun, kali ini berbeda.
Aku tidak lagi hanya memperhatikan jalan di depan. Sesekali aku melihat ke belakang, memastikan Ibu masih duduk dengan aman.
Sepanjang perjalanan, kejadian tadi terus terbayang di pikiranku.
Aku merasa malu sekaligus bersyukur.
Malu karena terlalu fokus pada perjalanan hingga lupa memperhatikan orang yang kubawa.
Bersyukur karena masih ada seseorang yang peduli dan mau berhenti untuk mengingatkanku.
Sejak hari itu, aku belajar satu hal sederhana yang ternyata sangat penting.
Dalam perjalanan hidup, kita memang harus melihat ke depan. Kita perlu tahu ke mana tujuan kita dan berusaha mencapainya.
Tetapi, jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar tujuan hingga lupa menoleh.
Sebab, bisa jadi ada seseorang yang sejak awal menemani perjalanan kita.
Seseorang yang kita sayangi.
Seseorang yang mungkin tidak banyak bicara, tetapi selalu ada di belakang kita.
Dan terkadang, kita baru menyadari betapa berharganya dia setelah kita hampir kehilangannya dari pandangan.
Sejak saat itu, setiap kali berkendara bersama orang lain, aku selalu ingat untuk menoleh.
Bukan hanya untuk memastikan siapa yang duduk di belakangku.
Tetapi untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang tertinggal dalam perjalanan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar